Wednesday, November 18, 2009

Kamu dan Malam

Sepi ketika tengah malam menjelang..
Apalagi saat ngk ada kamu di sampingku
Karena Pelukanmu itu yang buat tidurku lebih nyenyak
Usapanmu itu yang bikin hatiku luluh
Senyummu nan lugu itu yang buat aku kangen ngak ada dua..
Ughhhh…

Aku kangen pagi, aku kangen siang, aku kangen sore..
Karena dengan mereka celotehku bisa lebih panjang denganmu
Aku sayang kamu, hatiku sedang kosong di malam tanpamu

Posted by Just M at 18:26:42 | Permalink | No Comments »

Tuesday, November 17, 2009

For Love, Life and the Reason

Buatku cinta itu punya alasan. Cinta ngk buta2 banget. Yang pertama terpancar bisa menarik dimata itu duniawi banget… cantik, keren, ganteng, tajir, baik, bersih, seksi, enak di ajak ngomong, sopan… bener2 sangat2 fisik, sangat2 penuh penilaian ‘bungkus luar’. First impression dulu yang dinilai ngk muna deh! Kalau punya itu dalam diri kita berarti harus bersyukur, karena ngk semua orang di anugrahkan kualitas diri seperti itu, dan ngk semua orang sadar untuk merawatnya. Tapi satu hal yang patut di ingat tentang kebanggaan diri berlebihan dan ngak nginjek bumi.. apalagi pake embel2 ngeremehin orang.. dijamin tu kualitas juga bakal pudar, Tuhan bakal mudah nurunin diri kita kalau kita juga ngak ngehargai orang lain, kemakan sama rasa sombong. Mencintai diri sendiri ngakpp sehat kok, asal ngak berlebihan dan hormati orang lain dengan tulus. Hmm tulus.. apa tuh tulus? Menurut gw tulus itu tanpa pamrih, wajar, natural, perduli, selebihnya biarin aja Tuhan yang nilai ketulusan kita.

Emang ada orang yang hidupnya suka ngeluh, banyak complain, jalan ditempat.. yang model beginian ya kalau kita punya energi lebih, hati tulus, dan itung2 jadi terus belajar membangun jiwa mulia.. ya dibangkitin aja semangatnya. Kalau masih begitu juga.. yaudah biarin aja dia yang belajar dengan pengalaman hidupnya sendiri, Tuhan pasti punya byk cara tuk mengajarkan dengan sempurna. Sama halnya Tuhan punya banyak cara tuk mengajarkan dan mengingatkan kita, meski kadang pelajaran dari-Nya suka lebih “sakit” ketimbang dari kitanya sendiri yang mawas diri. Kita dikasih nurani dan pikiran tentunya juga tuk mengukur, menilai mana yang patut dikerjakan mana yang enggak. Meski kita juga kudu inget ngak selamanya kita nasehati orang, karena kita ini juga butuh nasehat orang. So.. cari deh orang – orang / figur yang patut tuk di tiru, di dengar masukannya. Rasulullah contoh paling teladan, kalo versi masa kini ada Mario Teguh yang lumayan mantab tutur kata dan pribadinya, ambil keteladanan nya, lalu lakukan perbaikan dan perubahan saat ini juga.

Back to cinta itu ngk buta, kalau menurut gw punya pasangan yg punya kualitas prima kayak diatas itu berarti berkah, tapi yang utama punya pasangan yg bisa bawa kebaikan dan bikin hati tenteram itu yang benar2 anugrah. Tapi ingat asahan utamanya musti dari kita sendiri dulu nunjukin kita layak tuk mendapatkan pasangan yang baik. Menurut gw hidup di dunia ini gampang2 susah.. gampang kalo mau dibuat simple, pikiran dan energi dipake dengan proporsional, hidup itu susah kalo masalah makin dibuat susah, dibikin ribet atau juga ngejalanin hidup dengan sembrono ngk pikir panjang.

But, anyway.. apa pun, bagaimana pun hidup kita patut disyukuri.. Karena hidup itu memang anugrah, dan setiap langkah kudu dijadikan pelajaran. Semoga kita semua bisa menikmati dan merawat hidup dengan bijaksana… yukk yak yukk! Termasuk gw.. kudu lebih waras lagi memaknai hidup, biar ngk ngomel2 panjang lagi ke pasangan yang Insya Allah udah diasah berkualitas prima :)

Posted by Just M at 19:10:28 | Permalink | No Comments »

Wednesday, October 21, 2009

SILATURAHMI PERSAHABATAN

Apa sih Konsep persahabatan menurut saya? Saya pikir ini bukan sekedar konsep teoritis tapi apa yang sudah saya rasakan dan alami selama ini. Persahabatan buat saya adalah tempat dimana hati kita bisa nyaman berdekatan. Bisa berbagi kesenangan dan tertawa bersama, berbagi kegundahan hati ataupun kekonyolan – kekonyolan yang kadang suka ngak jelas atau bahkan sangat jelas dan gamblang, utamanya merupakan teman yang bisa diajak tukar pikiran tuk melihat, mewarnai, dan memaknai suka dan duka kehidupan.

Sahabat itu buatku berarti jujur apa adanya, bisa menerima kekurangan dan kelebihan kita, membawa pengaruh yang positif, dalam hal ini harusnya mutual… sama2 bisa saling membawa pengaruh yang baik. Ini mutlak perlu dan harus dibangun, kalau mau jiwa dan pikiran kita tetap sehat.

Jika dalam berpolitik tidak ada kawan yang abadi.. tidak ada musuh yang abadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi. Benar dalam berpolitik lazimnya seperti itu, tapi buat saya Insya Allah konsep itu ngak sepenuhnya benar. Karena ini judulnya bukan sedang berpolitik, bukan sedang di ruang sidang atau di ruang kerja berhadapan dengan bos atau klien. Dalam kamus pertemanan saya semua bebas berteman dan memilih. Ngak ada larangan, ngak ada paksaan, ngak ada atasan dan bawahan, ngak ada ‘uang bicara’; yang ada Keikhlasan, kenyamanan dan saling Menghargai.

Patokan hidup yang terus saya pegang yang musti di bold terus dalam otak bahwa semua yang ada emang ngak ada yang abadi.. Semuanya pasti akan musnah, either itu teman atau musuh… yang ada cuma amal baik kita dan amal buruk kita. Kepentingannya apa? Buat saya kepentingan memiliki sahabat dan orang – orang yang dekat sama kita adalah memberikan makanan bagi hati dan jiwa, agar bisa lebih sehat memaknai kehidupan ini… buat aku di lingkungan sosial ngk perlu selalu terlihat eksis, karena emang tujuan saya bergaul sama orang bukan itu.  Pertemanan / persahabatan fondasinya adalah  ketulusan, kecocokan, kenyamanan dan saling mengisi.

Alarm dalam hati kita kadang menyatakan bahwa kita saling membutuhkan… dengan sahabat dekat biasanya seperti itu tandanya. Perbedaan, silang pendapat bukan berarti ngak ada… tapi rasa sayang dan perduli mustinya lebih besar hingga nilai kebersamaan itu lebih terasa bagi kehidupan pribadi kita masing - masing. Karena lewat hati dan tangan ikhlas kita… lewat hati dan tangan ikhlas para sahabat, kita bisa saling mengukir catatan amal baik tuk bekal di kehidupan kita berikutnya (semoga bukan menambah catatan amal buruk yang tertoreh)

Benefit dari keikhlasan dan kebaikan itu harus mutual dirasakan bagi orang lain dan diri kita sendiri, meski nilai kebaikan itu relatif dan kadang ngk objektif memuaskan bagi semua orang. Tetapi bila kita tetap ingat dan mengetahui tujuan akhir hidup ini sesungguhnya TAK HANYA di dunia, berarti melakukan tindakan yang BAIK, TULUS dan BIJAKSANA seharusnya mutlak untuk dilakukan dan terus diupayakan.


Tidak normatif  hanya dalam konteks wacana tapi silaturahmi persahabatan adalah praktek sungguh – sungguh dalam kehidupan nyata. Gunanya untuk menggapai kesehatan jiwa di dunia dan menanam catatan amal baik tuk bekal perjalanan kehidupan akhirat yang hasilnya Insya Allah bisa dinikmati bersama.

Terlalu muluk2 dan wise? Ahh ngak juga…

Yang jelas kalo saya pribadi Insya Allah bersyukur bisa menikmati setiap moment kebersamaan, untuk berusaha dikecap dengan perlahan entah dalam suka atau duka. Selebihnya lakukan yang terbaik, lakukan dengan wajar dan ikhlas karena kebaikan itu akan kembali ke diri kita sendiri, begitu pun sebaliknya. Karena Hukum tabur dan tuai berlaku dalam hidup ini.

*Tulisan ini dibuat tuk para sahabat dunia maya yang menjadi sangat nyata dan dekat. Memberi warna dan arti yang besar bagi kehidupan saya. Special big thanks to : 3G lovely ul, Dancow - G, Rafi n Joan…


Dan teman2 di dunia persilatan ini yang sudah memberi warna indah pelangi di hidupku.

* K affy mbak thya, Rain, Arie – michiru, Nuage & vi, Al, Kafka‘hn’, n Mbak vi-nya rafi, dsi.


Aku beruntung mengenal kalian atas segala kebersamaan kita. Sungguh banyak petikan pelajaran dan hikmah hidup yang sangat berarti buatku. Aku percaya…  diatas segala kisah suka dan duka yang masing – masing kita alami, di atas segala kelemahan dan kekurangan kita sebagai manusia, ada MAKNA hidup yang BESAR yang harusnya semakin menjadikan kita manusia – manusia yang lebih BAIK dan lebih Bijaksana menjalani kehidupan di dunia ini. Semakin tunduk pada Yang Kuasa dan selalu bersyukur atas segala karunia hidup yang Ia berikan. Buat para sahabat, doa kuhaturkan… semoga silaturahmi yang terjalin tak lekang oleh waktu dan hiruk pikuk kehidupan, meski tangan tak selalu sempat menjabat dan kehadiran tak selalu bisa dirasakan.

Luv you all! from d bottom of my heart… Semoga kasih sayang dan ketulusan hati dikuatkan dan langkah - langkah kita dibimbing oleh Allah dalam kebaikan. Amin.

Posted by Just M at 09:13:10 | Permalink | No Comments »

Monday, August 31, 2009

Tahun Hijriah

Mengapa Hijriah Menjadi Nama Tahun Islam?

Tahun Islam dinamai Hijriah, dimulai dari Hijrah, bukan dimulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW ataupun dari kemenangan fathul Mekkah karena di hijrah itu ada nilai-nilai yang tidak terkandung di peristiwa yang lain. Nilai-nilai tersebut yaitu: kebersamaan, perencanaan, kerja keras, pengorbanan, optimis dan pertolongan Allah SWT.

( Tafsir Al-Misbah, Dr. Quraish Shihab)

Semoga Kita bisa hijrah menuju keimanan dan ketaqwaan yang kuat kepada Allah SWT.

Posted by Just M at 00:39:22 | Permalink | No Comments »

Monday, August 24, 2009

Doa - doa dari para Nabi

Berikut doa - doa para Nabi yang bisa kita baca ketika membaca Al qur’an, Insya Allah dengan kuasa dan izin Allah dapat bermanfaat bagi kita yang memohonnya dengan sungguh - sungguh dan ikhlas.

(Doa Nabi Ibrahim) “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkan aku ke dalam golongan orang - orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang - orang yang datang kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan” (asy-Syuaara : 83 - 85)

(Doa Nabi Sulaiman a.s).. ” Ya Tuhanku, anugrahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba - hamba-Mu yang saleh” (an -Naml : 19)

Doa Rasullulah saw :

Ya Allah, campakkanlah kedalam hati kami cinta kepada iman. Hiasilah hati kami dengan iman. Buatkanlah kami benci akan kufur, fusuk dan maksiat. Dan jadikanlah kami orang yang mendapat petunjuk.
Maka barang siapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang.(surah al-maidah : 39)

“Ya Allah, tolonglah daku dalam menjalankan agama yang merupakan pelindung segala urusanku. Elokkanlah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Elokkanlah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai ketenangan bagiku dari segala kejahatan.” (HR. Muslim)

Salah satu doa Rasullulah :
Allahumma a’innii ‘alaa dzikriKa wahusni ‘ibaadatiKa”

(Ya Allah ya Tuhanku, bantulah aku untuk berdzikir kepadaMu dan membaikan ibadahku kepadaMu)

Posted by Just M at 18:52:25 | Permalink | No Comments »

Hukum Berdoa dan Tawassul

Hukum Berdo’a dengan Tawassul
* Semoga jadi ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat, mudah2an semakin meluruskan amal perbuatan.
Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   


Pengertian Tawassul

Pemahaman tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat islam selama ini adalah bahwa Tawassul adalah berdoa kepada Allah melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah. Jadi tawassul merupakan pintu dan perantara doa untuk menuju Allah SWT.

•    Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada  Allah menjadikan perantaraan berupa sesuatu yang dicintainya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah SWT juga mencintai perantaraan tersebut.
•    Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah bisa memberi manfaat dan madlorot kepadanya da. Jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah SWT itu bisa memberi manfaat dan madlorot, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlorot sesungguhnya hanyalah Allah semata.
•    Tawassul merupakan salah satu cara dalam berdoa. Banyak sekali cara untuk berdo’a agar dikabulkan Allah, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di Maqam Multazam, berdoa dengan mendahuluinya dengan bacaan alhamdulillah dan sholawat  dan meminta doa kepada orang sholeh. Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar do’a yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah s.w.t.  Dengan demikian, tawasul adalah alternatif dalam berdoa dan bukan merupakan keharusan.

Tawassul dengan amal sholeh kita
Para ulama sepakat memperbolehkan tawassul terhadap Allah SWT dengan perantaraan perbuatan amal sholeh, sebagaimana orang yang sholat, puasa, membaca al-Qur’an, kemudian mereka bertawassul terhadap amalannya tadi. Seperti hadis yang sangat populer diriwayatkan dalam kitab-kitab sahih yang menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam goa, yang pertama bertawassul kepada Allah SWT atas amal baiknya terhadap kedua orang tuanya, yang kedua bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjahui perbuatan tercela walaupun ada kesempatan untuk melakukannya dan yang ketiga bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannya dengan utuh, maka Allah SWT memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.. (Ibnu Taimiyah mengupas masalah ini secara mendetail dalam kitabnya Qoidah Jalilah Fii Attawasul Wal wasilah hal 160)

Tawassul dengan orang sholeh
Adapun yang menjadi perbedaan dikalangan ulama’ adalah bagaimana hukumnya tawassul tidak dengan amalnya sendiri melainkan dengan seseorang yang dianggap sholeh dan mempunyai amrtabat dan derajat tinggi dei depan Allah. sebagaimana ketika seseorang mengatakan : ya Allah aku bertawassul kepada-Mu melalui nabi-Mu Muhammmad atau Abu bakar atau Umar dll.  
Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini.  Pendapat mayoritas ulama mengatakan boleh, namun beberapa ulama mengatakan tidak boleh.  Akan tetapi kalau dikaji secara lebih detail dan mendalam, perbedaan tersebut hanyalah sebatas perbedaan lahiriyah bukan perbedaan yang mendasar karena pada dasarnya tawassul kepada dzat (entitas seseorang), pada intinya adalah tawassul pada amal perbuatannnya, sehingga masuk dalam kategori tawassul yang diperbolehkan oleh ulama’.

Dalil-Dalil Tentang Tawassul
    Dalam setiap permasalahan apapun suatu pendapat tanpa didukung dengan adanya dalil yang dapat memperkuat pendapatnya, maka pendapat tersebut tidak dapat dijadikan sebagai pegangan. Dan secara otomatis pendapat tersebut tidak mempunyai nilai yang berarti, demikian juga dengan permasalahan ini, maka para ulama yang mengatakan bahwa tawassul diperbolehkan menjelaskan dalil-dalil tentang diperbolehkannya tawassul baik dari  nash al-Qur’an maupun hadis, sebagai berikut:

A. Dalil dari alqur’an.

1.    Allah SWT berfirman dalam surat Almaidah, 35 :
ياأيها الذين آمنوااتقواالله  وابتغوا إليه الوسيلة
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”
Suat Al-Isra’, 57:

 أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً  

17.

57. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka [857] siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. [857] Maksudnya: Nabi Isa a.s., para malaikat dan ‘Uzair yang mereka sembah itu menyeru dan mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah.
Lafadl Alwasilah  dalam ayat ini adalah umum,  yang berarti mencakup tawassul terhadap dzat para nabi dan orang-orang sholeh baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, ataupun tawassul terhadap amal perbuatan yang baik.

2. Wasilah dalam berdoa sebetulnya sudah diperintahkan sejak jaman sebelum Nabi Muhammad SAW. QS 12:97 mengkisahkan saudara-saudara Nabi Yusuf AS yang memohon ampunan kepada Allah SWT melalui perantara ayahandanya yang juga Nabi dan Rasul, yakni N. Ya’qub AS. Dan beliau sebagai Nabi sekaligus ayah ternyata tidak menolak permintaan ini, bahkan menyanggupi untuk memintakan ampunan untuk putera-puteranya (QS 12:98).

قَالُواْ يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ.  قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

97. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”.
98. N. Ya’qub berkata: “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Di sini nampak jelas bahwa sudah sangat lumrah memohon sesuatu kepada Allah SWT dengan menggunakan perantara orang yang mulia kedudukannya di sisi Allah SWT. Bahkan QS 17:57 dengan jelas mengistilahkan “ayyuhum aqrabu”, yakni memilih orang yang lebih dekat (kepada Allah SWT) ketika berwasilah.

3. Ummat Nabi Musa AS berdoa menginginkan selamat dari adzab Allah SWT dengan meminta bantuan Nabi Musa AS agar berdoa kepada Allah SWT untuk mereka. Bahkan secara eksplisit menyebutkan kedudukan N. Musa AS (sebagai Nabi dan Utusan Allah SWT) sebagai wasilah terkabulnya doa mereka. Hal ini ditegaskan QS 7:134 dengan istilahبِمَا عَهِدَ عِندَكَDengan (perantaraan) sesuatu yang diketahui Allah ada pada sisimu (kenabian).
Demikian pula hal yang dialami oleh Nabi Adam AS, sebagaimana QS 2:37

فَتَلَقَّى آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Nabi Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”Kalimat yang dimaksud di atas, sebagaimana diterangkan oleh ahli tafsir berdasarkan sejumlah hadits adalah tawassul kepada Nabi Muhammad SAW, yang sekalipun belum lahir namun sudah dikenalkan namanya oleh Allah SWT, sebagai nabi akhir zaman.

4. Bertawassul ini juga diajarkan oleh Allah SWT di QS 4:64 bahkan dengan janji taubat mereka pasti akan diterima. Syaratnya, yakni mereka harus datang ke hadapan Rasulullah dan memohon ampun kepada Allah SWT di hadapan Rasulullah SAW yang juga mendoakannya.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

“Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

B. Dalil dari hadis.   
a. Tawassul kepada nabi Muhammad SAW sebelum lahir
 
Sebagaimana nabi Adam AS pernah melakukan tawassul kepada nabi Muhammad SAW. Imam Hakim Annisabur meriwayatkan dari Umar berkata, bahwa Nabi bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لما اقترف آدم الخطيئة قال : يا ربى ! إنى أسألك بحق محمد لما غفرتنى فقال الله : يا آدم كيف عرفت محمدا ولم أخلقه قال : يا ربى لأنك لما خلقتنى بيدك ونفخت فيّ من روحك رفعت رأسى فرأيت على قوائم العرش مكتوبا لاإله إلا الله محمد رسول الله فعلمت أنك لم تضف إلى إسمك إلا أحب الخلق إليك فقال الله : صدقت يا آدم إنه لأحب الخلق إلي، ادعنى بحقه فقد غفرت لك، ولولا محمد ما خلقتك (أخرجه الحاكم فى المستدرك وصححه ج : 2 ص: 615)
“Rasulullah s.a.w. bersabda:”Ketika Adam melakukan kesalahan, lalu ia berkata Ya Tuhanku, sesungguhnya aku memintaMu melalui Muhammad agar Kau ampuni diriku”. Lalu Allah berfirman:”Wahai Adam, darimana engkau tahu Muhammad padahal belum aku jadikan?” Adam menjawab:”Ya Tuhanku ketika Engkau ciptakan diriku dengan tanganMu dan Engkau hembuskan ke dalamku sebagian dari ruhMu, maka aku angkat kepalaku dan aku melihat di atas tiang-tiang Arash tertulis “Laailaaha illallaah muhamadun rasulullah” maka aku mengerti bahwa Engkau tidak akan mencantumkan sesuatu kepada namaMu kecuali nama mahluk yang paling Engkau cintai”. Allah menjawab:”Benar Adam, sesungguhnya ia adalah mahluk yang paling Aku cintai, bredoalah dengan melaluinya maka Aku telah mengampunimu, dan andaikan tidak ada Muhammad maka tidaklah Aku menciptakanmu”

Imam Hakim berkata bahwa hadis ini adalah shohih dari segi sanadnya. Demikian juga Imam Baihaqi dalam kitabnya Dalail Annubuwwah, Imam Qostholany dalam kitabnya Almawahib 2/392 , Imam Zarqoni dalam kitabnya Syarkhu Almawahib Laduniyyah 1/62, Imam Subuki dalam kitabnya Shifa’ Assaqom dan Imam Suyuti dalam kitabnya Khosois Annubuwah, mereka semua mengatakan bahwa hadis ini  adalah shohih.

Dan dalam riwayat lain, Imam Hakim meriwayatkan  dari Ibnu Abbas  dengan redaksi :

فلولا محمد ما خلقت آدم ولا الجنة ولا النار (أخرجه الحاكم فى المستدرك ج: 2 وص:615)

Beliau mengatakan bahwa hadis ini adalah shohih segi sanad, demikian juga Syekh Islam Albulqini dalam fatawanya mengatakan bahwa ini adalah shohih, dan Syekh Ibnu Jauzi  memaparkan dalam permulaan kitabnya Alwafa’ , dan dinukil oleh Ibnu Kastir dalam kitabnya Bidayah Wannihayah 1/180.

Walaupun dalam menghukumi hadis ini tidak ada kesamaan dalam pandangan ulama’, hal ini disebabkan perbedaan mereka dalam jarkh wattta’dil (penilaian kuat dan tidak) terhadap seorang rowi, akan tetapi dapat diambil kesimpulan bahwa tawassul terhadap Nabi Muhammad SAW adalah boleh.

b. Tawassul kepada nabi Muhammad SAW dalam masa hidupnya.

Diriwatyatkan oleh Imam Hakim :

عن عثمان بن حنيف قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم وجاءه رجل ضرير
فشكا إليه ذهاب بصره، فقال : يا رسول الله ! ليس لى قائد وقد شق علي فقال  رسول الله عليه وسلم : :ائت الميضاة فتوضأ ثم صل ركعتين ثم قل : اللهم إنى أسألك وأتوجه إليك لنبيك محمد نبي الرحمة يا محمد إنى أتوجه بك إلى ربك فيجلى لى عن بصرى، اللهم شفعه فيّ وشفعنى فى نفسى، قال عثمان : فوالله ما تفرقنا ولا طال بنا الحديث حتى دخل الرجل وكأنه لم يكن به ضر.  (أخرجه الحاكم فى المستدرك)

Dari Utsman bin Hunaif: “Suatu hari seorang yang lemah dan buta datang kepada Rasulullah s.a.w. berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai orang yang menuntunku dan aku merasa berat” Rasulullah berkata”Ambillah air wudlu, lalu beliau berwudlu dan sholat dua rakaat, dan berkata:”bacalah doa (artinya)” Ya Allah sesungguhnya aku memintaMu dan menghadap kepadaMu melalui nabiMu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta tuhanmu melaluimu agar dibukakan mataku, Ya Allah berilah ia syafaat untukku dan berilah aku syafaat”. Utsman berkata:”Demi Allah kami belum lagi bubar dan belum juga lama pembicaraan kami, orang itu telah datang kembali dengan segar bugar”. (Hadist riwayat Hakim di Mustadrak)

Beliau mengatakan bahwa hadis ini adalah shohih  dari segi sanad walaupun Imam Bukhori dan Imam Muslim tidak meriwayatkan dalam kitabnya. Imam Dzahabi mengatakatan bahwa hadis ini adalah shohih, demikian juga Imam Turmudzi dalam kitab Sunannya bab Daa’wat mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan shohih ghorib. Dan Imam Mundziri dalam kitabnya Targhib Wat-Tarhib 1/438, mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam Nasai, Ibnu Majah dan Imam Khuzaimah dalam kitab shohihnya.  

c. Tawassul kepada nabi Muhammad SAW setelah  meninggal.

Diriwayatkan oleh Imam Addarimi :

عن أبى الجوزاء  أ وس بن عبد الله قال : قحط أهل المدينة قحطا شديدا فشكوا إلى عائشة فقالت : انظروا قبر النبي فاجعلوا منه كوا إلى السماء حتى لا يكون بينه وبين السماء سقف قال : ففعلوا فمطروا مطرا حتى نبت العشب وسمنت الإبل حتى تفتقط من السحم فسمي عام الفتق ( أخرجه الإمام الدارمى ج : 1 ص : 43)

Dari Aus bin Abdullah: “Sautu hari kota Madina mengalami kemarau panjang, lalu datanglah penduduk Madina ke Aisyah (janda Rasulullah s.a.w.) mengadu tentang kesulitan tersebut, lalu Aisyah berkata: “Lihatlah kubur Nabi Muhammad s.a.w. lalu bukalah sehingga tidak ada lagi atap yang menutupinya dan langit terlihat langsung”, maka merekapun melakukan itu kemudian turunlah hujan lebat sehingga rumput-rumput tumbuh dan onta pun gemuk, maka disebutlah itu tahun gemuk” (Riwayat Imam Darimi)

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori  :

عن أنس بن مالك إن عمر بن خطاب كان إذا قطحوا استسقى بالعباس بن عبد المطلب فقال : اللهم إنا كنا نتوسل إليك بنبينا فتسقينا وإنا ننتوسل إليك بعم نبينا فاسقنا قال : فيسقون (أخرجه الإمام البخارى فى صحيحه ج: 1 ص:137 )

Riwayat Bukhari: dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Abbas berkata:”Ya Tuhanku sesungguhkan kami bertawassul (berperantara) kepadamu melalui nabi kami maka turunkanlah hujan dan kami bertawassul dengan paman nabi kami maka turunkanlau hujan kepada, lalu turunlah hujan.

d. Nabi Muhammad SAW melakukan tawassul .

عن أبى سعيد الحذري قال : رسول الله صلى الله عليه وسلم : من خرج من بيته إلى الصلاة، فقال : اللهم إنى أسألك بحق السائلين عليك وبحق ممشاى هذا فإنى لم أخرج شرا ولا بطرا ولا رياءا ولا سمعة، خرجت إتقاء شخطك وابتغاء مرضاتك فأسألك أن تعيذنى من النار، وأن تغفر لى ذنوبى، إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت، أقبل الله بوجهه واستغفر له سبعون ألف ملك (أخرجه بن ماجه وأحمد وبن حزيمة وأبو نعيم وبن سنى).

Dari Abi Said al-Khudri: Rasulullah s.a.w. bersabda:”Barangsiapa keluar dari rumahnya untuk melaksanakan sholat, lalu ia berdoa: (artinya) Ya Allah sesungguhnya aku memintamu melalui orang-orang yang memintamu dan melalui langkahku ini, bahwa aku tidak keluar untuk kejelekan, untuk kekerasan, untuk riya dan sombong, aku keluar karena takut murkaMu dan karena mencari ridlaMu, maka aku memintaMu agar Kau selamatkan dari neraka, agar Kau ampuni dosaku sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali diriMu”, maka Allah akan menerimanya dan seribu malaikat memintakan ampunan untuknya”. (Riwayat Ibnu Majad dll.).

Imam Mundziri mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dengan sanad yang ma’qool, akan tetap Alhafidz Abu Hasan mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan.( Targhib Wattarhib 2/ 119).

Alhafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Abu Na’im dan Ibnu Sunni.(Nataaij Alafkar 1/272).

Imam Al I’roqi dalam mentakhrij hadis ini  dikitab Ikhya’ Ulumiddin mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan, (1/323).
Imam Bushoiri  mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dan hadis ini shohih, (Mishbah Alzujajah 1/98).

Pandangan  Para Ulama’ Tentang Tawassul

Untuk mengetahui sejauh mana pembahasan tawassul telah dikaji para ulama, ada baiknya kita tengok pendapat para ulama terdahulu.  Kadang  sebagian orang masih kurang puas, jika hanya menghadirkan dalil-dalil tanpa disertai oleh pendapat ulama’, walaupun sebetulnya  dengan dalil saja  tanpa harus menyartakan pendapat ulama’ sudah bisa dijadikan landasan bagi orang meyakininya. Namun untuk lebih memperkuat pendapat tersebut, maka tidak ada salahnya jika disini dipaparkan pandangan ulama’ mengenai hal tersebut.  

Pandangan Ulama Madzhab

Pada suatu hari ketika kholifah Abbasiah Al-Mansur datang ke Madinah dan bertemu dengan Imam Malik, maka beliau bertanya:”Kalau aku berziarah ke kubur nabi, apakah menghadap kubur atau qiblat? Imam Malik menjawab:”Bagaimana engkau palingkan wajahmu dari (Rasulullah) padahal ia perantaramu dan perantara bapakmu Adam kepada Allah, sebaiknya menghadaplah kepadanya dan mintalah syafaat maka Allah akan memberimu syafaat”. (Al-Syifa’ karangan Qadli ‘Iyad al-Maliki jus: 2 hal: 32).

Demikian juga ketika Imam Ahmad Bin Hambal bertawassul kepada Imam Syafi’i dalam doanya, maka anaknya yang bernama Abdullah heran seraya bertanya kepada bapaknya, maka Imam Ahmad menjawab :”Syafii ibarat matahagi bagi manusia dan ibarat sehat bagi badan kita”

 (شواهد الحق ليوسف بن إسماعيل النبهانى ص:166)

Demikian juga perkataan imam syafi’i dalam salah satu syairnya:

آل النبى ذريعتى # وهم إليه وسيلتى
أرجو بهم أعطى غدا # بيدى اليمن صحيفتى
(العواصق المحرقة لأحمد بن حجر المكى ص:180)  

“Keluarga nabi adalah familiku, Mereka perantaraku kepadanya (Muhammad), aku berharap melalui mereka, agar aku menerima buku perhitunganku di hari kiamat nanti dengan tangan kananku”

Pandangan Imam Taqyuddin Assubuky
Beliau memperbolehkan dan mengatakan bahwa tawassul dan isti’anah  adalah sesuatu yang baik dan dipraktekkan oleh para nabi dan rosul, salafussholeh, para ulama,’ serta  kalangan umum umat islam dan tidak ada yang mengingkari perbuatan tersebut sampai datang seorang ulama’ yang mengatakan bahwa tawassul adalah sesuatu yang bid’ah. (Syifa’ Assaqom  hal 160)

Pandangan Ibnu Taimiyah
Syekh Ibnu Taimiyah dalam sebagian kitabnya memperbolehkan tawassul kepada nabi Muhammad SAW tanpa membedakan apakah Beliau masih hidup atau sudah meninggal. Beliau berkata : “Dengan demikian, diperbolehkan tawassul kepada nabi Muhammad SAW dalam doa, sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi :

أن النبي علم شخصا أن يقول : اللهم إنى أسألك وأتوسل إليك بنبيك محمد نبي الرحمة يا محمد إنى أتوجه بك إلى ربك فيجلى حاجتى ليقضيها فشفعه فيّ (أخرجه الترميذى وصححه).

Rasulullah s.a.w. mengajari seseorang berdoa: (artinya)”Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadaMu dan bertwassul kepadamu melalui nabiMu Muhammad yang penuh kasih, wahai Muhammad sesungguhnya aku bertawassul denganmu kepada Allah agar dimudahkan kebutuhanku maka berilah aku sya’faat”. Tawassul seperti ini adalah bagus (fatawa Ibnu Taimiyah jilid 3 halaman 276)

Pandangan Imam Syaukani

Beliau mengatakan bahwa tawassul kepada nabi Muhammad SAW  ataupun kepada yang lain ( orang sholeh),  baik pada masa hidupnya  maupun  setelah meninggal  adalah merupakan ijma’ para shohabat.

Pandangan Muhammad Bin Abdul Wahab.

Beliau melihat bahwa tawassul adalah sesuatu yang makruh menurut jumhur ulama’ dan tidak sampai menuju pada tingkatan haram ataupun bidah bahkan musyrik. Dalam surat yang dikirimkan oleh Syekh Abdul Wahab kepada warga qushim bahwa beliau menghukumi kafir terhadap orang yang bertawassul kepada orang-orang sholeh., dan menghukumi kafir terhadap AlBushoiri atas perkataannya YA AKROMAL KHOLQI dan membakar dalailul khoirot. Maka beliau membantah : “ Maha suci Engkau, ini adalah kebohongan besar. Dan ini diperkuat dengan surat beliau yang dikirimkan kepada warga majma’ah ( surat pertama dan kelima belas dari kumpulan surat-surat syekh Abdul Wahab hal 12 dan 64, atau kumpulan fatwa syekh Abdul Wahab yang diterbitkan oleh Universitas Muhammad Bin Suud  Riyad  bagian ketiga  hal 68)

Dalil-dalil yang melarang tawassul
Dalil yang dijadikan landasan oleh pendapat yang melarang tawassul adalah sebagai berikut:
1. Surat Zumar, 2:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ  

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.
Orang yang bertwassul kepada orang sholih maupun kepada para kekasih Allah, dianggap sama dengan sikap orang kafir ketika menyembah berhala yang dianggapnya sebuah perantara kepada Allah.
Namun kalau dicermati, terdapat perbedaan antara tawassul dan ritual orang kafir seperti disebutkan dalam ayat tersebut: tawassul semata dalam berdoa dan tidak ada unsur menyembah kepada yang dijadikan tawassul , sedangkan orang kafir telah menyembah perantara; tawassul juga dengan sesuatu yang dicintai Allah sedangkan orang kafir bertwassul dengan berhala yang sangat dibenci Allah.

2. Surah al-Baqarah, 186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ  

2. 186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Allah Maha dekat dan mengabulkan doa orang yang berdoa kepadaNya. Jika Allah maha dekat, mengapa perlu tawassul dan mengapa memerlukan sekat antara kita dan Allah.
Namun dalil-dalil di atas menujukkan bahwa meskipun Allah maha dekat, berdoa melalui tawassul dan perantara adalah salah satu cara untuk berdoa. Banyak jalan untuk menuju Allah dan banyak cara untuk berdoa, salah satunya adalah melalui tawassul.

3. Surat Jin, ayat 18:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً  

72. 18. Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.
Kita dilarang ketika menyembah dan berdoa kepada Allah sambil menyekutukan dan mendampingkan siapapun selain Allah.
Seperti ayat pertama, ayat ini dalam konteks menyembah Allah dan meminta sesuatu kepada selain Allah. Sedangkan tawassul adalah meminta kepada Allah, hanya saja melalui perantara.

Kesimpulan
Tawassul dengan perbuatan dan amal sholeh kita yang baik diperbolehkan menurut kesepakatan ulama’. Demikian juga tawassul kepada Rasulullah s.a.w. juga diperboleh sesuai dalil-dalil di atas. Tidak diragukan lagi bahwa nabi Muhammad SAW mempunyai kedudukan yang mulia disisi Allah SWT, maka tidak ada salahnya jika kita bertawassul terhadap kekasih Allah SWT yang paling dicintai, dan begitu juga dengan orang-orang yang sholeh.

Selama ini para ulama yang memperbolehkan tawassul dan melakukannya tidak ada yang berkeyakinan sedikitpun bahwa mereka (yang dijadikan sebagai perantara) adalah yang yang mengabulkan permintaan ataupun yang memberi madlorot. Mereka berkeyakinan bahwa hanya Allah lah yang berhak memberi dan menolak doa hambaNya. Lagi pula berdasarkan hadis-hadis yang telah dipaparkan diatas menunjukakn bahwa perbuatan tersebut bukan merupakan suatu yang baru dikalangan umat islam dan sudah dilakukan para ulama terdahulu. Jadi jikalau ada umat islam yang melakukan tawassul sebaiknya kita hormati mereka karena mereka tentu mempunyai dalil dan landasan yang cukup kuat dari Quran dan hadist.

Tawassul adalah masalah khilafiyah di antara para ulama Islam, ada yang memperbolehkan dan ada yang melarangnya, ada yang menganggapnya sunnah dan ada juga yang menganggapnya makruh. Kita umat Islam harus saling menghormati dalam masalah khilafiyah dan jangan sampai saling bermusuhan. Dalam menyikapi masalah tawassul kita juga jangan mudah terjebak oleh isu bid’ah yang telah mencabik-cabik persatuan dan ukhuwah kita. Kita jangan dengan mudah menuduh umat Islam yang bertawassul telah melakukan bid’ah dan sesat, apalagi sampai menganggap mereka menyekutukan Allah, karena mereka mempunyai landasan dan dalil yang kuat. Tidak hanya dalam masalah tawassul, sebelum kita mengangkat isu bid’ah pada permasalahan yang sifatnya khilafiyah, sebaiknya kita membaca dan meneliti secara baik dan komprehensif masalah tersebut sehingga kita tidak mudah terjebak oleh hembusan teologi permusuhan yang sekarang sedang gencar mengancam umat Islam secara umum.

Memang masih banyak kesalahan yang dilakukan oleh orang muslim awam dalam melakukan tawassul, seperti menganggap yang dijadikan tawassul mempunyai kekuatan, atau bahkan meminta-minta kepada orang yang dijadikan perantara tawassul, bertawassul dengan orang yang bukan sholeh tapi tokoh-tokoh masyarakat yang telah meninggal dunia dan belum tentu beragama Islam, atau bertawassul dengan kuburan orang-orang terdahulu, meminta-minta ke makam wali-wali Allah, bukan bertawassul kepada para para ulama dan kekasih Allah. Itu semua tantangan dakwah kita semua untuk kita luruskan sesuai dengan konsep tawassul yang dijelaskan dalil-dalil di atas.
Wallahu a’lam bissowab

Penyusun:
Ustadz Agus Zainal Arifin, Hiroshima
Ustadz Muhammad Niam, Islamabad
Ustadz Ulin Niam Masruri, Islamabad

Posted by Just M at 00:31:50 | Permalink | No Comments »

Kisah Tempayan Retak

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya.

Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang Dari mata air ke rumah majikannya, tempayan itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, Karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannnya.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, “Saya sunggh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu.”
“Kenapa?” Tanya si tukang air.
“Kenapa kamu merasa malu?”
“Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi.” Kata tempayan itu.

Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, “Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur.

Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu. Itu karena aku selalu menyadari akan cacadmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”

Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias-Nya.

* Setiap kita yang memiliki ’keistimewaan’ diberi rasa / tendensi sebagai ‘pencinta perempuan’ menurutku merupakan sisi ujian / kekurangan,  atau bahasa lebih halusnya keistimewaan yang harus disikapi dengan benar. Bagiku sendiri menemukan diri mendapatkan ujian ini… memiliki kekasih tercinta terkadang justru menjadi beban di hati, ketika ibadah yang dilakukan terasa jadi tak sepenuhnya sempurna. Terkadang or seringkali tindakan dan perasaan berbenturan dengan rasa keimanan dalam beribadah kepada Tuhan. Mau ngak dipikiran ya tetap berasa… dipikiran terlalu larut juga ngak sehat, yang ada menyesali. Serasa tak utuh diri ini ketika berhadapan dengan DIA. Malu dan sedih, belum bisa sepenuhnya memenuhi panggilan meninggalkan larangan-Nya. Tapi secara pribadi kutetap berharap seperti tempayan ini… meski tak sempurna..  semoga diri ini / kita semua tetap bisa menjadi manusia yang berbudi luhur.. dan bisa membawa perbaikan, rahmat bagi semesta alam… manisfestasinya dalam tindakan adalah bisa sama - sama mengajak… ke jalan kebaikan. Menjadikan ujian ini sebagai karunia untuk terus mendekatkan diri pada Illahi… menjauhi diri dari yang mungkar, dan berusaha terus selalu memperbaiki amal. Meskipun kita bagai tempayan yang retak, tapi semoga Allah bisa melihat keindahan itu. Amin

Posted by Just M at 00:20:13 | Permalink | No Comments »

Thursday, August 20, 2009

Puasa… puasa

Puasa… puasa…
sebulan penuh puasa
Puasa… puasa…
ramadhan bulan mulia
Puasa… puasa..
wajib bagi yang beriman
Puasa… puasa..
sebetulnya menyehatkan

Sebulan menahan nafsu
menjauhi larangan Tuhan
meningkatkan ketaqwaan
Puasa dengan penuh ikhlas
Tingkatkan martabat diri
Lahir bathin suci kembali

Semoga Tuhan ridhoi
ibadah puasa kita di bulan Ramadhan

*Bimbo

Doa Jelang Ramadhan :

Allahumma Sallim niy LiRamadhana, Wa Sallim Ramadhana Liy, Wa Tasallam Hu Minniy Mutaqabbalan.

“Ya Allah hantarkanlah diriku kepada bulan Ramadhan dan hantarkanlah bulan Ramadhan kepada diriku dan terimalah (amalan-amalan pada bulan Ramadhan) dariku.”

Ya Allah, salam dan salawat kami sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad Saw, beserta keluarga, sahabat dan para syuhada. Kami sambut bulan-Mu yang suci ini dengan gembira, mudahkanlah jalan kami untuk beribadah pada-Mu, bersihkanlah hati dan jiwa kami ini ya Allah. Limpahkanlah rahmat, kasih sayang dan ampunan-Mu pada kami ya Allah. Ya Allah pemilik arsy yang agung, bukalah pintu - pintu berkah dan ampunan-Mu ya Allah, lindungi jiwa - jiwa kami yang lemah ini ya Allah, jauhi dari segala bisikan dan godaan syaitan, kuatkan langkah kami untuk tetap dekat dengan-Mu. Ya Allah yang Maha pengasih lagi Maha Mendengar. Sayangilah kami, jauhi kami dari segala bala dunia dan akhirat, jauhi kami dari murka-Mu ya Allah, jauhi kami dari siksa kubur dan api neraka. Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah kelapangan bagi yang sempit, berikanlah kemudahan bagi yang kesulitan, berikanlah cahaya bagi yang gelap, berikanlah rizki yang luas bagi yang kekurangan, berikanlah ampunan bagi yang memohon, berikanlah kesembuhan bagi yang sakit, berikanlah kedamaian bagi yang bertikai, berikanlah jalan keluar bagi yang kebimbangan, Sesungguhnya hanya kepada-Mu-lah kami memohon, ya Allah. Maha Besar Engkau ya Allah, kabulkanlah permohonan kami ini. Hanya Kepada-Mulah kami hidup dan mati, mudahkanlah langkah kami terus menuju cahaya-Mu, ridha-Mu, ampunan-Mu. Karena Tiada daya dan upaya kami melainkan dari pertolongan-Mu. Hanya kepada-Mu ibadah kami dan kepada-Mu-lah kami kembali. Allahu Akbar.. Alllahu Akbar. Laillahaillah. Amin amin amin ya robbal alamin.

Posted by Just M at 10:47:34 | Permalink | No Comments »

Niat Rukun Utama Puasa

Niat Puasa untuk Sebulan Penuh
Wanita Bertanya Ulama Menjawab - Wednesday, 12 September 2007

Kafemuslimah.com

Assalaamu’alaikum Warochmatulloohi Wabarokaatuh.

Ustadz, Saya ingin menanyakan masalah yang berhubungan dengan niat puasa. Mengingat manusia seperti saya ini sering lupa, na’uudzubillah min dzaalik. Pertanyaan saya sebagai berikut:

1. Rukun Puasa yang pertama adalah niat.
Karena Puasa Ramadhan itu 1 bulan, terkadang lupa untuk niat pada malam harinya. Jika puasa sunnah, dibolehkan kita niat setelah waktu Subuh asal belum makan apa-apa sebelumnya. Bagaimana dengan puasa wajib/Ramadhon? Apakah sah juga jika niat setelah waktu Subuh?

2. Jika Tidak sah, apakah kewajibannya selain Qadha? Dan bolehkah makan/minum di siang hari karena niat puasanya tidak sah?

3. Bagaimana jika pada tanggal 1 Ramadhan kita berniat puasa fardhu Ramadhan satu (1) bulan penuh, dari awal sampai habisnya Ramadhan, untuk antisipasi kelupaan? Apakah dibolehkan dan tetap sah puasanya jika malam selanjutnya kita lupa niat?

Sebelumnya kami ucapkan terima kasih, atas jawaban Ustadz.

Wassalaamu’alaikum Warochmatulloohi Wabrokaatuh.

Muchammad Charridh Almukminin
charridh

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah yang anda tanyakan itu diistilahkan oleh para ulama dengan sebutan tabyitun-niyah. Berasal dari kata baata yaitu yang berarti bermalam. Dan niyah maknanya adalah berniat untuk puasa. Jadi makna istilah itu adalah berniat sejak malam sebelum esoknya berpuasa.

Dari Hafshah Ummul Mukminin ra. bahwa Nabi SAW bersabda, “Siapa yang tidak berniat puasa di malam hari sebelum fajar, tidak ada puasa untuknya. (HR Khamsah).

Tidak sah puasa bagi orang yang tidak berniat sejak malam. (HR Ad-Daaruquthuni)

Para ulama sepakat bahwa untuk puasa yang bersifat wajib seperti Ramadhan, nadzar dan qadha’, setiap kita harus sudah meniatkannya sebelum melakukannya. Batas waktu berakhirnya adalah masuknya waktu Shubuh, atau sejak dimulainya puasa itu.

Sedangkan untuk puasa sunnah, tidak ada kewajiban tabyitun-niyah. Jadi meski di pagi hari seseorang sama sekali tidak berniat untuk puasa, bahkan sempat mencari-cari makanan, lalu karena tidak mendapatkan satu pun yang bisa dimakan, tiba-tiba mengubah niatnya jadi ingin berpuasa.

Dari Aisyah ra. berkata, “Suatu hari Rasulullah SAW masuk ke rumahku dan bertanya, “Kamu punya makanan?” Aku menjawab, “Tidak.” Beliau berkata, “Kalau begitu aku berpuasa saja.” (HR Bukhari dan Muslim)

Khusus untuk puasa sunnah hukumnya boleh tanpa tabyitun-niyah, seperti puasa Senin Kamis, atau puasa Ayyamul Biidh tiap tanggal 11, 12 dan 13 bulan-bulan hijriyah, puasa Asyura, puasa Arafah dan lainnya.

Dan anda benar bahwa tanpa diniatkan sebelumnya, puasa wajib hukumnya menjadi tidak sah. Untuk itu di hari lain di luar Ramadhan nanti, ada keharusan untuk mengganti. Namun bukan berarti orang yang tidak berniat puasa di bulan Ramadhan ini boleh makan-makan di waktu siang. Dia tetap diwajibkan untuk menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa, tetapi tetap tidak sah bila berpuasa.

Niat Puasa untuk Sebulan Penuh

Sebagian ulama memandang bahwa meski puasa bulan Ramadhan itu berada dalam satu bulan utuh, namun satu hari dengan lainnya tetap terpisah-pisah. Bila seseorang batal puasanya dalam satu hari, tidak berpengaruh kepada batalnya hari yang lain.

Ini menunjukkan bahwa meski berada dalam satu bulan, tetapi satu hari dengan hari yang lainnya terpisah, tidak menjadi satu. Oleh karena itu maka keharusan berniatnya pun harus satu-satu. Sehingga tiap malam harus kita lakukan tabyitun-niyah.

Namun satu pendapat dari imam Malik rahimahullah menyatakan bahwa tidak ada yang salah dengan niat untuk puasa selama sebelum penuh, tanpa harus melakukannya tiap malam. Sebab yang namanya niat itu tidak harus dilakukan tepat sesaaat sebelum suatu pekerjaan dilakukan. Lagi pula meski satu hari dengan hari lainnya terpisah, tetap saja tidak ada salahnya kita berniat untuk melakukan puasa sebanyak 30 hari secara sekaligus.

Para ulama kemudian ada mengambil langkah bijak, yaitu mengkombinasikan antara kedua pendapat tersebut. Yaitu sejak malam pertama Ramadhan berniat untuk berpuasa sebulan penuh, tetapi tiap malam tetap diupayakan melakukan niat juga. Ini adalah jalan tengah yang kompromistis dan bijak. Rasanya, boleh juga kalau kita coba.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

dari : http://www.eramuslim.com/ustadz/shm/6925124702-niat-puasa-sebulan-penuh.htm

Posted by Just M at 10:04:33 | Permalink | Comments (1) »

Monday, August 17, 2009

Getar… getar Cinta..


Masih terasa getar hati
Saat engkau ungkapkan
Segala yang terpendam
Dan kau bisikkan

Nada cinta
Semakin indah dunia
Membuka mata hati
Getar-getar cinta
Semakin dalam kurasa
Bagai sebuah simfoni
Dalam jiwa..

Nih kutambahin potongan dari jadulnya Rosa biar Kahitna-nya makin dalem. Auuuu auuuu… :P%&*^@# This song I dedicate to both of you. http://www.youtube.com/watch?v=rV_4Mc5HsJE&feature=PlayList&p=F196057BB4037B82&playnext=1&playnext_from=PL&index=3

*17an di Sing! berasa punya sendiri ;) Masih kurang? Yaudah ntar kita bawa dia ke samping ya, biar perebutan kekuasaan kalian langsung dituntaskan :D Tapi gw ngak ikutan ye. Ngacir aja sama Nda. Nice to know her, sis.. Semoga kedekatanmu dengan dia membawa pengalaman hidup yang baik.

Posted by Just M at 17:41:44 | Permalink | Comments (6)